GEMA PENGAMPUNAN DI TENGAH DENDAM MEMBARA

PESTA SALIB SUCI

Bc.1. Bil 21:4-9            Bc.2. Flp 2:6-11           Bc.3. Yoh 3:13-17

Salib bagi orang Yunani dan Yahudi adalah tanda kehinaan dan kebodohan.  Namun itulah yang telah diterima oleh Yesus dalam hidup-Nya.  Dia mati di kayu salib. Kita bersyukur kerana salib bukan akhir dari peristiwa Yesus.  Dia bangkit kembali dan nilah yang memberi erti baru terhadap salib sebagai tanda iman, harapan dan cinta kasih.

GEMA PENGAMPUNAN DI TENGAH DENDAM MEMBARA

Hati yang sedang membarah kerana marah kadang susah untuk dikawal. Dalam situasi itu boleh saja kita melepaskannya kepada orang yang bersangkutan. Tetapi apa yang terjadi kalau kita melepaskan kemarahan kepada orang lain. Orang lain yang dibenci tetapi orang lain yang dimarah. Tentu sahaja orang yang dimarahi pun menjadi marah dan mungkin membalas dengan lebih dashyat lagi. Apabila kemarahan tidak dapat dikawal, ada pihak yang akan menjadi korban. Itulah yang akan terjadi jika seorang tidak memiliki sikap berbalas kasih untuk mengampuni orang lain.

Jika kita sejujur Petrus, harus diakui bahwa kita hampir-hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengampuni orang lain. Apa lagi bila harus mengampuni tanpa batas, dan dengan sepenuh hati. Tidak ada kesalahan yang tidak dapat diampuni.Yesus sendiri memberikan contoh bahwa Allah telah mengampuni setiap dosa umat-Nya yang datang meminta kepada-Nya.

Dengan menggunakan perumpamaan Yesus menyampaikan bahawa Allah mengampuni setiap jengkal dosa kita. Memang susah untuk memahami perumpamaan itu. Perumpamaan Yesus itu sebenarnya menggambarkan betapa mahalnya pengampunan yang telah kita terima dalam Tuhan.Dosa kita terlalu berat dan banyak sehingga Yesus harus dikorbankan untuk menebus dosa kita manusia.Orang yang sungguh menghayati pengampunan Allah, wajib meneruskan pengampunan itu kepada sesamanya.Namun jika kita sendiri belum mengalami pengampunan Allah, memang mustahil untuk meneruskan misi pengampunan itu.  Seperti yang diajarkan oleh Yesus kita harus mengampuni orang lain supaya kita juga memperoleh pengampunan.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya, pelampiasan dendam semakin banyak mewarnai surat kabar, media cetak dan elektronik, juga di kebanyakan laman web. Nada ketidakpuasan, iri hati, kekecewaan, sakit hati, dendam semakin membara umpama api yang sedang marak di tengah lautan minyak. Tidak ada seorang pun yang berkuasa dan mau memadamkannya.Demikianlah keadaan masyarakat kita yang mudah tenggelam ke dalam lautan dendam kebencian.Masih adakah gema pengampunan di tengah lautan dendam kebencian itu?

Gema pengampunan masih harus terus diperdengarkan, tidak akan luntur ditelan zaman, karena misi-Nya belum mencapai hujungnya. Masih banyak jiwa yang tersesat yang harus dibawa-Nya pulang.Perumpamaan Yesus tentang seekor domba yang hilang membuktikan bagaimana misi penyelamatan itu tidak pernah luntur.Satu jiwa pun sangat berharga di mata-Nya.Ia tidak pernah meremehkan atau meninggalkan seorang manusia pun, karena setiap jiwa yang tersesat akan dicari sampai dapat. Setiap orang yang telah ditemukan-Nya juga akan memiliki tugas untuk mencari dan menemukan jiwa-jiwa yang masih tersesat. Oleh karena itu ketika kita – anak-anak Tuhan – melihat saudara kita berbuat dosa, harus mengupayakan segala cara untuk menyadarkannya dan menyerahkannya kembali kepada Tuhan.

Gema pengampunan antara sesama, bukan berdasarkan kebaikan, kemurah hati, kesabaran, dan belas kasih semata-mata, namun karena anugerah pengampunan-Nya telah kita terima lebih dulu. Sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang lain, karena kesalahannya pada kita tidak dapat dibandingkan dengan dosa kita. Jika Tuhan telah menganugerahkan pengampunan bagi kita, adakah kita berhak menahan pengampunan bagi orang lain yang bersalah pada kita? Hutang kita telah dilunaskan, masihkah kita menuntut hutang pada orang yang telah memohon supaya hutangnya dilunaskan?

Bagaimana jika orang yang bersalah kepada seringkali mengulangi kesalahannya? Apakah kita kan terus menerus mengampuninya atau tidak? Harus diingat bahawa kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah dan tidak akan pernah surut. Ketika kita mengulangi kesalahan, Allah senantiasa bersedia untuk mengampuni kita.Orang yang melakukan salah dapat dikatakan bahawa dia telah jatuh dalam dosa dan sudah tidak selamat lagi kerana dosanya. Bila kita mengampuninya maka dia akan selamat. Jika kita tidak mengampuni mereka itu bererti kita menutup dan menghalangi keselamatan baginya dan ini secara langsung menutup bagi diri kita keselamatan itu. Maka, jika ingin diampuni, kita juga harus mengampuni orang lain, jika ingin selamat, kiat juga harus menyelamatkan orang lain. Oleh yang demikian, gema pengampunan itu harus selalu diungkapkan.

Cadangan soalan untuk refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Masih banyak saudara kita yang merindukan pengampunan-Nya.Mungkin di antara mereka ada yang kita kenali.Datanglah kepada mereka dan gemakanlah gema pengampunan kepadanya.

  1. Sikap tulus ikhlas mengampuni adalah sikap yang perlu dimiliki oleh pengikut Kristus, apakah saya memiliki keberanian untuk mengampuni orang lain dengan tulus ikhlas?

Allah Bapa di syurga, Engkau telah memuaskan kami dengan santapan kudus. Kami
mohon dengan rendah hati: agar kami yang telah Engkau tebus dengan kayu salib Putera-Mu yang menghidupkan, Engkau ikut sertakan dalam kemuliaan kebangkitan-Nya. Sebab, Dialah Tuhan dan Pengantara kamisepanjang segala masa.

Sharing is caring!